19 April 2012

Pemetaan Dan Penghitungan Pencapaian SPM Pendidikan Dasar Kabupaten Wonosobo Tahun 2011


Pemetaan Dan Penghitungan Pencapaian SPM Pendidikan Dasar Kabupaten Wonosobo Tahun 2011




SPM
INDIKATOR
ANALISIS

KEBIJAKAN

2
Rombongan Belajar dan Ruang Kelas
2.1
Rombongan Belajar SD/MI

Terdapat 21% sekolah yang belum memenuhi SPM. Rasio siswa per rombel tingkat kabupaten hanya 25,1 dan di 2 kecamatan rasio siswa per rombel lebih dari 32 yaitu Kecamatan Wonosobo dan Kertek, sementara 13 kecamatan yang lain rata-rata telah memenuhi SPM Rasio siswa Rombel.
1.       Pembatasan penerimaan peserta didik baru (PPDB) untuk 110 SDN, 2 SDS, 1 MIN dan 4 MIS
2.       Penggabungan sekolah dasar negri.

2.2
Rombongan Belajar SMP/MTs

Terdapat 11% atau 11 sekolah yang belum memenuhi SPM. Rasio siswa per rombel tingkat kabupaten hanya 30.6 dan di semua kecamatan rasio siswa per rombel kurang dari 36. Masih ada SMP S dan MTS S yang rasio siswa per rombel kurang dari 16.
1.  Pembatasan penerimaan peserta didik baru (PPDB) untuk 6 SMPN, 2 SMPS dan 3 MTsS.

2.3
Kecukupan Ruang Kelas SD/MI
Terdapat 9% sekolah memiliki rasio ruang kelas rombel kurang dari 1 atau belum memenuhi SPM. Masih ada sekolah kecil atau 17% sekolah memliki rasio siswa per rombel 16 atau kurang (SPM 2.1)
1.     Membangun RKB di sekolah yang rasio ruang kelas terhadap rombel kurang dari 0.833 dan memiliki rasio siswa rombel lebih dari 16. Untuk 11 SDN dan 3 SDS
2.  Multishift untuk sekolah yang memiliki rasio RK/Rombel 0.83 - <1 dan memiliki rasio siswa per rombel lebih dari 16. Untuk 14 SDN dan 3 MIS
2.4
Kecukupan Ruang Kelas SMP/MTs

Terdapat 34% sekolah memiliki rasio ruang kelas rombel kurang dari 1 atau belum memnuhi SPM. Distribusinya terdapat di 25 SMP N, 4 SMP S, dan 5 MTS S. Jumlah kekurangan ruang kelas sebanyak 109 ruang kelas.
Membangun RKB di sekolah untuk 25 SMPN, 4 SMPS dan 5 MTsS

2.5
Sarana dan Prasarana Ruang Kelas SD/MI



2.5.1 Kursi Siswa
          SD/MI
Sebanyak 26% sekolah SD/MI kekurangan kursi siswa tersebar di 147 sekolah, jumlah kekurangan kursi sebanyak 4880 kursi.
3.       Pengadaan kursi siswa. 118 SDN, 2 SDS, 0 MIN dan 27 MIS



2.5.2 Meja Sisiwa  
          SD/MI
Sebanyak 12 % sekolah SD/MI kekurangan meja siswa tersebar di 63 sekolah, jumlah kekurangan meja sebanyak 700 meja.
4.       Pengadaan meja siswa untuk sekolah yang mengalami kekurangan meja siswa. 53 SDN, 2 SDS, 0 MIN dan 11 MIS



2.5.3 Papan Tulis
          SD/MI
Hampir semua sekolah memiliki papan tulis yang cukup atau memenuhi SPM tentang kecukupan papan tulis. Hanya ada 9 sekolah yang kekurangan papn tulis, jumlah kekurangan papn tulis sebanyak 16 buah.



5.       Membeli papan tulis untuk sekolah yang kekurangan. 8 SDN, 1 MIS


2.6
Sarana dan Prasarana Ruang Kelas SMP/MTs



2.5.1 Kursi Siswa
          SMP/MTs
Sebanyak 24% sekolah SMP/MTS kekurangan kursi siswa tersebar di 24 sekolah, jumlah kekurangan kursi sebanyak 3102 kursi.
Pengadaan kursi siswa. 10 SMPN, 7 SMPS dan 7 MTsS



2.5.2 Meja Siswa  
          SMP/MTs
Sebanyak 13% sekolah SMP/MTS kekurangan meja siswa tersebar di 13 sekolah, jumlah kekurangan meja sebanyak 1181 meja.
Pengadaan meja siswa. 5 SMPN, 5 SMPS dan 3 MTsS


2,7
Kelayakan Ruang Kelas SD/MI
Sebanyak 30% sekolah SD/MI memiliki ruang kelas tidak layak digunakan dalam proses pembelajaran atau tidak memenuhi SPM tersebar di 167 SD/MI dengan jumlah ruang kelas yang tidak layak sejumlah 364 ruang.
1.      Melakukan rehab ruang kelas rusak berat secara bertahap kpd 144 SDN, 1 SDS, dan 22 MIS
2. Setiap tahun dievaluasi daftar sekolah yang perlu direhab sambil menuggu hasil penggabungan sekolah.

2.8
Kelayakan Ruang Kelas SMP/MTs
Semua ruang kelas yang digunakan dalam keadaan layak, semua sekolah memenuhi SPM tentang ruang kelas.

3
Ruang Laboratorium SMP/MTs
3.1
Ruang Laboratorium SMP/MTs
Terdapat 39% sekolah SMP/MTS belum memiliki runag laboratorium IPA, tersebar di 39 sekolah 17 diantaranya adalah MTS S.
Membangun ruang lab IPA untuk 10 SMPN, 12 SMPS dan 17 MTsS.


4
Ruang Guru dan Ruang Kepala Sekolah
4.1
Ruang Guru SD/MI
Sebanyak 15% sekolah belum memiliki ruang guru tersebar di 85 sekolah, 79 sekolah diantaranya di SD N. Sebagian sekolah tersebut memiliki ruang kelas yang tidak digunakan.
1.   Membangun ruang guru untuk  54 SDN, 1 SDS, dan 5 MIS
2.  Konversi ruang kelas yang tidak digunakan menjadi ruang guru

4.2
Ruang Guru SMP/MTs
Sebanyak 11% sekolah belum memiliki ruang guru tersebar di 11 sekolah. Sebagian sekolah tersebut memiliki ruang kelas yang tidak digunakan.
1.  Membangun ruang guru untuk 6 SMPN, 2 SMPS dan 3 MTsS.
2.    Konversi ruang yang tidak digunakan menjadi ruang guru

4.3
Sarana dan Prasarana Ruang Guru SD/MI

4.3.1 Kursi Guru
          SD/MI
Sebanyak 64% sekolah SD.MI kekurangan kursi guru tersebar di 359 sekolah dengan jumlah kekurangan kusi guru sebanyak 2325 kursi guru.
6.       Melakukan pengadaan kursi guru untuk sekolah-sekolah yang kekurangan kursi guru 320 SDN, 3 SDS, 1 MIN dan 35 MIS


4.3.2 Meja Guru
          SD/MI
Sebanyak 71% sekolah SD.MI kekurangan meja guru tersebar di 389 sekolah dengan jumlah kekurangan meja guru sebanyak 2638 kursi guru.
Melakukan pengadaan meja guru untuk sekolah-sekolah yang kekurangan meja guru.
347 SDN, 4 SDS, 1 MIN dan 37 MIS

4.4
Sarana Ruang Guru SMP/MTs

4.4.1 Kursi Guru
          SMP/MTs
Sebanyak 94% sekolah SMP/MTS kekurangan kursi guru tersebar di 93 sekolah dengan jumlah kekurangan kursi guru sebanyak 2666 kursi guru.

3. Melakukan pengadaan kursi guru untuk sekolah-sekolah yang kekurangan kursi guru. untuk 50 SMPN, 22 SMPS, 1 MTsN dan 20 MTsS.




4.4.2 Meja Guru
          SMP/MTs
Sebanyak 84% sekolah SMP/MTS kekurangan meja guru tersebar di 83 sekolah dengan jumlah kekurangan meja guru sebanyak 2579 kursi guru.
4. Melakukan pengadaan meja guru untuk sekolah-sekolah yang kekurangan meja guru. untuk 49 SMPN, 18 SMPS, 1 MTsN dan 15 MTsS.


4.5
Ruang Kepala Sekolah SMP/MTs
Sebanyak 10% sekolah belum memiliki ruang kepala sekolah yang terpisah dengan ruang guru tersebarb di 10 sekolahan.
5.       Membangun 10 ruang kepala sekolah. Kpd 5 SMPN, 3 SMPS, 0 MTsN dan 2 MTsS.

5
Ketersediaan Guru Kelas SD/MI
5.1
Kecukupan Guru Kelas SD/MI
Sebanyak 41% sekolah mengalami kekurangan guru kelas tersebar di 255 sekolah. Sementara 41% sekolah kelebihan guru kelas. Apabila dilihat rasio guru kelas rombel maka rasio di tingkat kabupaten 0,89, artinya di tingkat kabupaten Wonosobo masih kekurangan guru kelas, yaitu kecamatan Kejajar dan Wadaslintang sementara 12 kecamatan lain kekurangan guru kelas.
1.       Redistribusi guru untuk 193 SDN
2.       Rekrut guru 5 SDS dan 27 MIS
3.       Mutasi guru kelas dari sekolah yang kelebihan ke sekolah yang kekurangan

6
Kecukupan Guru Mata Pelajaran Kelas SMP/MTs
Di tingkat kabupaten terjadi kelebihan guru di semua mata pelajaran keculai mata pelajaran Ketrampilan/TIK. Di tingkat sekolah distribusi guru mata pelajaran juga tidak merata, ada sekolah yang kelebihan guru mata pelajaran sementara sekolah lain kekurangan guru mata pelajaran yang sama.

1.  Mutasi guru dari sekolah yang kelebihan ke sekolah yang kekurangan guru.
2.  Mobilitas guru mengajar di lebih dari satu sekolah untuk memenuhi 24 jam tatap muka per minggu. Secara bertahap dimulai dari guru PNS harus memnuhi jam mengajar minimal 24 jam.
3.  Pengetatan penerimaan GTT sesuai dengan kebutuhan karena jumlah guru sudah berlebih.
4.  Retraining guru Matematika, IPA, dan IPS untuk mengajar Ketrampilan/TIK
7
Kualifikasi Guru SD/MI
7.1
Kualifikasi Guru SD/MI
Sebanyak 67% sekolah belum memiliki guru berkualifikasi S1 dalam jumlah yang cukup. Demikian pula dengan sertifikasi, 37% sekolah belum memiliki jumlah guru bersertifikat pendidik yang cukup.

1.  Memberi bantuan beasiswa bagi guru yang belum berkualifikasi S1. Jika di sekolah tersebut tidak ada guru yang dapat diberi beasiswa, maka memberikan beasiswa bagi guru di sekolah lain yang memiliki guru S1 cukup untuk dipindahkan ke sekolah yang kekurangan.
2.  Mengajukan sertifikasi guru di sekolah yang kekurangan guru serifikasi. Jika di sekolah tersebut tidak ada guru yang dapat diusulkan, maka mengajukan usulan untuk guru di sekolah lain yang memiliki guru sertifikasi cukup untuk dipindahkan ke sekolah yang kekurangan.
7.2
Sertifikasi Guru SD/MI
Sebanyak 29% sekolah belum memiliki guru bersertifikasi S1 dalam jumlah yang cukup. Demikian pula dengan sertifikasi, sebanyak 42% sekolah belum memiliki jumlah guru bersertifikat pendidik yang cukup.

1.  Memberi bantuan beasiswa bagi guru yang belum berkualifikasi S1. Jika d sekolah tersebut tidak ada guru yang dapat diberi beasiswa, maka memberikan beasiswa bagi guru di sekolah lain yang memiliki guru S1 cukup untuk dipindahkan ke sekolah yang kekurangan.
2.  Mengajukan sertifikasi guru di sekolah yang kekurangan guru sertifikasi. Jika di sekolah tersebut tidak ada guru yang dapat diusulkan, maka mengajukan usulan untuk guru di sekolah lain yang memiliki guru sertifikasi cukup untuk dipindahkan ke sekolah yang kekurangan.
8
Kualifikasi Guru SMP/MTS
Sebanyak 29% sekolah belum memiliki guru berkualifikasi S1 dalam jumlah cukup. Demikian pula dengan sertifikasi, sebanyak 42% sekolah belum memiliki jumlah guru bersertifikat pendidik yang cukup
1. Memberi bantuan beasiswa bagi guru yang belum berkualifikasi S1. Jika di sekolah tersebut tidak ada guru yang dapat diberi beasiswa, maka memberikan beasiswa bagi guru di sekolah lain yang memiliki guru S1 cukup, untuk dipindahkan kesekolah yang kekurangan
2. Mengajukan sertifikasi guru di sekolah yang kekurangan guru serifikasi. Jika di sekolah tersebut tidak ada guru yang dapat diusulkan, maka mengajukan usulan untuk guru di sekolah lain yang memiliki guru sertifikasi cukup untuk dipindahkan ke sekolah yang kekurangan.
9
Kualifikasi dan Sertifikasi Guru Matematika SMP/MTS
Untuk empat mata pelajaran pokok di SMP/MTS, setiap sekolah/ madrasah memerlukan 1 guru yang telah berkualifikasi S1 dan bersertifikat pendidik. Sebagian sekolah belum memenuhi sebagian lainnya sudah, bahkan bebrapa sekolah memiliki lebih dari 1 guru yang memenuhi syarat S1 dan sertifikasi.
Mengajukan sertifikasi guru mapel tersebut yang sudah S1. Jika di sekolah tersebut tidak ada guru yang dapat diusulkan, maka mengajukan usulan untuk guru di sekolah lain yang sudah memnuhi SPM ini untuk dipindahkan ke sekolah yang belum memenuhi.

10
Kualifikasi Kepala Sekolah SD/MI
Baru 17,68% kepala sekolah yang memenuhi SPM berkualifikasi S1 dan bersertifikasi, masih banyak kepala sekolah yang belum S1 dan lagi belum bersertifikasi
Mengganti kepala sekolah secara bertahap melalui system periodesasi jabatan kepala sekolah dengan calon kepala sekolah yang sudah S1 dan bersertifikasi, sehingga semua kepala sekolah baru telah memenuhi kualifikasi S1 dan bersertifikat
11
Kualifikasi Kepala Sekolah SMP/MTs
Sebanyak 65,5% kepala sekolah sudah memenuhi SPM yaitu sudah S1 dan bersertifikasi, 21% sudah S1 tetapi belum bersertifikasi dan 14% kepala sekolah belum S1 semuanya berasal dari kepala sekolah SMP S dan MTS S.
Mengganti kepala sekolah secara bertahap melalui sistem periodesasi jabatan kepala sekolah, sehingga semua kepala sekolah baru telah memenuhi kualifikasi S1 dan bersertifikat.

12
Kualifikasi Pengawas
Sebanyak 48% pengawas sekolah sudah memenuhi SPM yaitu sudah berkualifikasi S1 dan bersertifikasi, 21% sudah S1 tetapi belum bersertifikasi, dan 28% belum berkualifikasi S1, walaupun sebagian sudah bersertifikasi.



Mengangkat atau mengganti pengawas yang pensiun dengan pengawas yang memiliki kualifikasi S1 dan bersertifikat pendidik. Tidak ada implikasi dana.

13 s.d 18
Perhitungan dengan menggunakan proxy
(variable antara)





13
Dinas Pendidikan melaksanakan kegiatan yang mendukung pengembangan kurikulum dan proses pembelajaran.
Kebutuhan peralatan IPA di SMP/MTS harus dipenuhi di setiap akhir masa pakai peralatan IPA. Misalnya masa pakai adalah  tahun, maka  tahun sekolah tersebut harus menggantikan peralatan IPA dengan peralatan yang baru sebanyak satu set per sekolah.
Untuk memastikan setiap peralatan IPA terjaga kelengkapannya dan di setiap sekolalh juga tersedia dalam sejumlah satu set lengkap, maka secara berkala (setiap tahun) dialokasikan seperlima (20%) anggaran untuk pemenuhan peralatan IPA.
Pemenuhan Alat IPA = Jumlah SMP/MTs X (harga peralatan IPA) X 20%.                                                                   
14
Pengawas melakukan kunjungan ke satuan/ pendidikan
Dari dokumen Renstra Dikpora Kabupaten Wonosobo 2011-2015 diperoleh bahwa setiap tahun kegiatan workshop pengembangan kurikulum dan proses pembelajaran dilakukan oleh Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga. Alokasi anggaran setiap tahun ini disediakan untuk kegiatan ini.
Rata-rata kegiatan ini memerlukan biaya 200 ribu rupiah per sekolah, sehingga alokasi anggaran ini yang diperlukan adalah Rp 200,000 X jumlah sekolah (SD/MI dan SMP/MTs) per tahun.

15
Setiap SD/MI menyediakan buku teks mata pelajaran Bahasa Indonesia, Matematika, IPA, dan IPS untuk setiap peserta didik.
Hingga saat ini belum ada catatan tentang frekuensi kunjungan pengawas dan lama kunjungan ke sekolah. Kedepan, sekolah mencatat kunjungan pengawas baik fekuensinya maupun lama kunjungan. Setiap bulan minimal sekolah mendapat kunjungan pengawas satu kali selama tiga jam.             
Karena kunjungan pengawas ke sekolah menjadi bagian tugas pokok dan fungsi (tupoksi) pengawas, maka dinas tidak mengalokasikan dana untuk kunjungan ini.

16
16 Setiap SMP/MTs menyediakan satu set buku teks yang berisi buku teks siswa untuk mata pelajaran Agama, Seni Budaya, Muatan Lokal, dan Ketrampilan/TIK.
Kebutuhan buku teks SD/MI harus dipenuhi di setiap akhir masa pakai buku teks. Misalnya masa pakai adalah 5 tahun sekolah tersebut harus menggantikan buku teks dengan buku yang baru untuk setiap siswa untuk mata pelajarn Bahasa Indonesia, Matematika, IPA, dan IPS.
Untuk memastikan setipa buku teks mata pelajaran Bahasa Indonesia, Matematika, IPA, dan IPS terjaga kelengkapannya untuk setiap siswa, maka berkala (setiap tahun) dialokasikan seperlima (20%) anggaran untuk pemenuhan keempat buku teks tersebut.
Pemenuhan buku teks = Jumlah siswa SD/MI x (harga buku teks) x 20%. Harga buku teks ditetapkan Rp. 20,000 per buku teks.
17
17 Setiap SD/MI menyediakan satu set peraga IPA
Kebutuhan buku teks SMP/MTs harus dipenuhi disetiap akhir masa pakai buku teks. Misalnya masa pakai adalah 5 tahun, maka setiap 5 tahun sekolah tersebut harus menggantikan buku teks dengan buku yang baru untuk setiap siswa untuk semua mata pelajaran.
Untuk memastikan setiap buku teks mata pelajaran terjaga kelengkapannya untuk setiap siswa, maka secara berkala (setiap tahun) dialokasikan seperlima (20%) anggaran untuk pemenuhan buku teks semua mata pelajaran.
Pemenuhan buku teks = Jumlah siswa SD/MI x (harga buku teks) x 20%. Harga buku teks ditetapkan Rp. 20,000 per buku teks.
18
18.1 Setiap SD/MI memiliki 100 judul buku pengayaan.
Kebutuhan satu set peraga IPA di SD/MI harus dipenuhi di setiap akhir masa pakai peralatan IPA. Misalnya masa pakai adalah 5 tahun, maka setiap 5 tahun sekolah tersebut harus menggantikan peraga IPA dengan peraga yang baru sebanyak satu set per sekolah.
Untuk memastikan setiap peraga IPA terjaga kelengkapanya dan di setiap sekolah juga tersedia dalam sejumlah satu set lengkap, maka secara berkala (setiap tahun) dialokasikan seperlima (20%) anggaran untuk pemenuhan peraga IPA.
Pemenuhan peraga IPA = Jumlah SD/MI x (harga peraga IPA) x 20%.
18
18.2 Setiap SD/MI memiliki 10 buku referensi.
Kebutuhan buku pengayaan  SD/MI harus dipenuhi di setiap akhir masa pakai buku pengayaan. Misalnya masa pakai adalah 5 tahun, maka setiap  tahun sekolah tersebut harus menggantikan buku pengayaan dengan buku yang baru sebanyak 100 judul buku pengayaan per sekolah.
Untuk memastikan setiap buku pengayaan terjaga kelengkapannya, maka secara berkala (setiap tahun) dialokasikan seperlima (20%) anggaran untuk pemenuhan buku tersebut.
Pemenuhan buku pengayaan = 100 x (harga buku pengayaan) x  20%. Harga buku pengayaan ditetapkan Rp. 30,000 per buku.

18
18.3 Setiap SMP/MTs memiliki 200 judul buku pengayaan.
Kebutuhan buku referensi SD/MI harus dipenuhi di setiap akhir masa pakai buku referensi. Misalnya masa pakai adalah 5 tahun, maka setiap 5 tahun sekolah tersebut harus menggantikan buku refernsi dengan buku yang baru sebanyak 10 judul buku referensi per sekolah.
Untuk memastikan setiap buku referensi terjaga kelengkapannya, maka secara berkala (setiap tahun) dialokasikan seperlima (20%) anggaran untuk pemenuhan buku tersebut.
Pemenuhan buku pengayaan = 10 x (harga buku referensi) x 20%. Harga buku referensi ditetapkan Rp. 30,000 per buku.

18
18.4 Setiap SMP/ MTs  memiliki 20 buku referensi.
Kebutuhan buku pengayaan SMP/MTs harus dipenuhi di setiap akhir masa pakai buku pengayaan. Misalnya masa pakai adalah 5 tahun, maka setiap 5 tahun sekolah tersebut harus menggantikan buku pengayaan dengan buku yang baru sebanyak 200 judul buku pengayaan per sekolah.
Untuk mamastikan setiap buku pengayaan terjaga kelengkapannya, maka secara berkala (setiap tahun) dialokasikan seperlima (20%) anggaran untuk pemenuhan buku tersebut.
Pemenuhan buku pengayaan = 20 x (harga buku pengayaan) x 20%. Harga buku pengayaan ditetapkan Rp. 30,000 per buku.
IP 18.4 Setiap SMP/MTs memiliki 20 buku referensi.


Kebutuhan buku referensi SMP/MTs harus dipenuhi di setiap akhir masa pakai buku referensi. Misalnya masa pakai adalah  tahun, maka setiap 5 tahun sekolah tersebut harus menggantikan buku referensi dengan buku yang baru sebanyak 20 judul buku referensi per sekolah.
Untuk memastikan setiap buku referensi terjaga kelengkapannya, maka secara berkala (setiap tahun) dialokasikan seperlima (20%) anggaran untuk pemenuhan buku tersebut.
Pemenuhan buku pengayaan = 20 x (harga buku referensi) x 20%. Harga buku referensi ditetapkan Rp. 30,000 per buku.

Pemetaan Dan Penghitungan Pencapaian SPM Pendidikan Dasar Kabupaten Wonosobo Tahun 2011

0 comments:

Post a Comment